Aku bangun pagi ini dengan semangat baru bercampur harunya kehidupanku dan sekitarku. Kutuju toilet kecilku sembari mebasahi muka dan rambut untuk menuju meja makanku. Kusambut segelas susu dengan sedikit cemilan di sekitarnya.
'Ah, apa tidak ada menu yang lain untuk hari ini...' Keluhku dalam hati.
Dengan terkantuk-kantuk aku pun menyantap hidangan kecil yang tersedia. Sudah sedikit kenyang, kutatap jam dinding untuk memastikan apa sudah saatnya kembali tidur lagi. Hahaha, ternyata pikiran menipuku untuk menyicipi kembali mimpi indah semalam yang rasanya takan pernah kucapai.
Kulihat tetanggaku mulai bersiap-siap untuk berangkat kerja, tanpa tahu apa yang akan dialami mereka dijalan nanti. Berpikir untuk ikut bersama mereka merasakan apa yang akan mereka lewati hari ini. Tapi itu hanya akan menjadi harapan yang sirna bila dipahami dengan anggapan lelucon. Ada baiknya kurapikan tempat tidurku dan menjemur sisa-sisa danau yang tercipta dibantalku, daripada melamun merasakan hidup orang lain tanpa tahu perasan terdalam mereka.
Siang menjelang dengan terik matahari yang menyinari kamarku, tiba saatnya bagiku untuk berjalan keluar rumah memandangi isi dunia yang terjangkau oleh mata coklat ini. Tak ada yang berbeda, semua sama. Jalannya, pohonnya, rumahnya, semuanya sama bila tak kuperhatikan secara detail. Wah, sampai juga ditempat tujuan rumah temanku yang rasanya sudah seperti saudara.
Aku merasakan ketenangan saat bersembunyi disana, bersembunyi dari ketakutan atas kebodohan yang aku miliki selama ini. Aku tak tahu apa aku terlalu muda untuk memahaminya sehingga tidak mengerti, atau aku terlalu bodoh untuk memahaminya. Ya, hanya Tuhan yang tahu jawaban mudah itu.
Sore menjelang malam membuatku harus kembali kekandangku untuk meminta makan dan peristirahatan dari orang yang dibilang ayah dan ibuku. Aku tak tahu kapan aku dapat lepas dari mereka, maksudnya lepas dengan dapat hidup mandiri, mencukupi diri sendiri. Bukan salahku terjadi seperti ini, bukan keinginanku untuk mau seperti ini, itulah yang selalu terpikir saat mencari alasan bodoh melawan kebenaran yang ada.
Malam gelap pun datang menyelimuti kotaku. Kurenungkan betapa lemahnya aku saat dibandingkan dengan orang lain, betapa bodohnya aku saat disandingkan otak orang lain. Kuratapi rapuhnya diriku detik demi detik. Apa ini takdir hidupku?! Apa belum saatnya bagiku?! Apa aku memang tidak bisa menjadi seperti mereka?! Oh.., malangnya hidupku...
Tapi ada kata-kata yang selalu terngiang saat kegelisahanku itu datang. Apa aku punya kesempatan untuk merubah hidupku ini?? Ya hatiku memberi jawaban. Aku memang terlalu pusing untuk mengharapkan seperti orang lain, aku terlalu ego untuk menganggap diri ini lebih hebat dari orang lain. Ya, aku memang selalu tertipu oleh pikiranku tentang apa yang aku perlukan. Padahal aku sudah memilikinya...
Apa yang aku miliki?? Ya, itu memang butuh perenungan untuk dapat menemukannya...
Apakah susah untukku?? Tidak juga, Bila aku telah siap menerima keadaan diriku apa adanya. Ya, Inilah diriku apa adanya. Jiwa raga akan mulai berkembang menuju keadaan dimana aku kembali menerima diriku apa adanya, apa yang terjadi didalam dan diluar tubuh ini.
Aku memang harus percaya diri.., jangan biarkan aku memojokan diri ini atas kelemahannya tidak bisa menjadi seperti orang lain. Aku mempunyai kelebihan, dan aku sadar bahwa setiap orang mempunyai kelebihan yang berbeda-beda. Ya, aku mempunyai tujuan yang mulia. Dan aku tidak akan tertipu oleh kelemahan dalam diriku yang akan membuatku memandangi dunia dengan pandangan kekelaman...
Terima kasih untuk sesuatu yang membuat aku mulai sadar, bahwa aku bisa menjadi lebih dari diriku sebelumnya. Tetapi tetap menerima diriku apa adanya. Karena inilah diriku, yang akan kupersiapkan dalam perjalanan menuju akhir hayatku . . .
Dan kuharapkan aku tak tertipu oleh pikiranku sendiri lagi . . . Hahaha . . . .
---> Read More . . .
Jumat, 24 Juli 2009
Kematian
Ia Akan Datang Pada Setiap Orang
Tak Peduli Disaat Sedih Maupun Senang
Kosongkan Dirimu Untuk Berperang
Percayalah, Cahaya Hatimu Akan Semakin Terang
Selidikilah Setiap Langkah Perjalanmu
Jangan Biarkan Kegelapan Menguasainya
Hanya Saat Berkoneksi Dengan Hatimu
Jiwa Ragamu Siap Untuk Menghadapinya
Bulan Tidak Akan Pernah Ditumbuhi Beras
Matahari Takan Pernah Kau Genggam
Persiapkanlah Jiwamu Untuk Berada Diatas
Karena Ada Kematian Yang Membawa Kelam . . .
---> Read More . . .
Tak Peduli Disaat Sedih Maupun Senang
Kosongkan Dirimu Untuk Berperang
Percayalah, Cahaya Hatimu Akan Semakin Terang
Selidikilah Setiap Langkah Perjalanmu
Jangan Biarkan Kegelapan Menguasainya
Hanya Saat Berkoneksi Dengan Hatimu
Jiwa Ragamu Siap Untuk Menghadapinya
Bulan Tidak Akan Pernah Ditumbuhi Beras
Matahari Takan Pernah Kau Genggam
Persiapkanlah Jiwamu Untuk Berada Diatas
Karena Ada Kematian Yang Membawa Kelam . . .
---> Read More . . .
Categories
Puisi
Kamis, 23 Juli 2009
Terserah Anda
Saat Bangun Tidur. Mau Makan, Minum, Olahraga, Atau Tidur Lagi. Terserah Anda . . .
Saat Habis Mandi. Mau Nonton, Denger Radio, Atau Nyuci Baju. Terserah Anda . . .
Saat Berangkat KeKantor. Mau Naik Angkot, Atau Bolos Kerja. Terserah Anda . . .
Saat Menikah. Mau Nikah 3 Kali, Punya Anak 5, Atau Nikah Sejenis. Terserah Anda . . .
Saat Beli HP. Mau Yang Mahal, Murah, Atau Nyolong. Terserah Anda . . .
Semuanya Terserah Anda . . . Semuanya Tergantung Pilihan Anda . . .
Anda Bebas Memilih Apa Saja . . . Tapi Ingat ! ! ! Semua Ada Aturannya . . .
Dan Aturan Itu Jangan Sampai Mengikat Kita, Tapi Harus Menjadi Pemandu Hidup Kita Untuk Memilah Segi-Segi DiDalam Kehidupan Kita.
Mana Yang Baik, Dan Mana Yang Buruk . . .
Thank Q u . . . ---> Read More . . .
Saat Habis Mandi. Mau Nonton, Denger Radio, Atau Nyuci Baju. Terserah Anda . . .
Saat Berangkat KeKantor. Mau Naik Angkot, Atau Bolos Kerja. Terserah Anda . . .
Saat Menikah. Mau Nikah 3 Kali, Punya Anak 5, Atau Nikah Sejenis. Terserah Anda . . .
Saat Beli HP. Mau Yang Mahal, Murah, Atau Nyolong. Terserah Anda . . .
Semuanya Terserah Anda . . . Semuanya Tergantung Pilihan Anda . . .
Anda Bebas Memilih Apa Saja . . . Tapi Ingat ! ! ! Semua Ada Aturannya . . .
Dan Aturan Itu Jangan Sampai Mengikat Kita, Tapi Harus Menjadi Pemandu Hidup Kita Untuk Memilah Segi-Segi DiDalam Kehidupan Kita.
Mana Yang Baik, Dan Mana Yang Buruk . . .
Thank Q u . . . ---> Read More . . .
Categories
Renungan Singkat
Murid Dan Guru Banyak Ngemeng
Bu Guru : Selamat Pagi Jhoni, Apa Kabarmu Hari Ini ?
Jhoni : Ah, Saya Belum Makan Dari Tadi Malam Bu . .
Bu Guru : Oh, Sama Dengan Ibu Dong. Ibu Juga Belum Makan Dari Kemerin Siang.
Jhoni : Aduh, Kasihan Benar Ibu Ini. Ini Bu, Saya Ada Uang Rp. 10.000,00 Untuk Ibu.
Bu Guru : Hah, Kenapa Kamu Memberikannya Kepada Ibu. Nanti Kamu Makan Pake Apa?
Jhoni : Yang Jelas Saya Makan Make Piring, Sendok, Atau Engga Tangan.
Bu Guru : Iya Ibu Ngerti, Tapi Belinya Gimana? Emang Kamu Masih Punya Duit ?
Jhoni : Sudah Bu, Terima Saja, Saya Ikhlas Kok. Nanti Saya Juga Tinggal Minta Sama Ayah..
Bu Guru : Emang Ayah Sudah Pulang?
Jhoni : Iya Bu, Kemarin Ayah Bilang Katanya Mau Pulang Besok.
Bu Guru : Kalo Gitu, Sekarang Bareng Makan Ibu Aja Ya..
Jhoni : Terserah Ibu deh, Yang Penting Saya Makan.
Bu Guru : Yaudah Sekarang Kita Ke Kantin. Mudah-Mudahan Aja Besok Papa Bawa Oleh-Oleh.
Jhoni : Iya, Semoga Juga Papa Masih Ingat Sama Mama..
Bu Guru : Papa Pasti Ingat Sama Mama, Karena Mamakan Bu Guru Paling Keren. Hahaha....
Jhoni : Terserah Mama Dech....
---> Read More . . .
Jhoni : Ah, Saya Belum Makan Dari Tadi Malam Bu . .
Bu Guru : Oh, Sama Dengan Ibu Dong. Ibu Juga Belum Makan Dari Kemerin Siang.
Jhoni : Aduh, Kasihan Benar Ibu Ini. Ini Bu, Saya Ada Uang Rp. 10.000,00 Untuk Ibu.
Bu Guru : Hah, Kenapa Kamu Memberikannya Kepada Ibu. Nanti Kamu Makan Pake Apa?
Jhoni : Yang Jelas Saya Makan Make Piring, Sendok, Atau Engga Tangan.
Bu Guru : Iya Ibu Ngerti, Tapi Belinya Gimana? Emang Kamu Masih Punya Duit ?
Jhoni : Sudah Bu, Terima Saja, Saya Ikhlas Kok. Nanti Saya Juga Tinggal Minta Sama Ayah..
Bu Guru : Emang Ayah Sudah Pulang?
Jhoni : Iya Bu, Kemarin Ayah Bilang Katanya Mau Pulang Besok.
Bu Guru : Kalo Gitu, Sekarang Bareng Makan Ibu Aja Ya..
Jhoni : Terserah Ibu deh, Yang Penting Saya Makan.
Bu Guru : Yaudah Sekarang Kita Ke Kantin. Mudah-Mudahan Aja Besok Papa Bawa Oleh-Oleh.
Jhoni : Iya, Semoga Juga Papa Masih Ingat Sama Mama..
Bu Guru : Papa Pasti Ingat Sama Mama, Karena Mamakan Bu Guru Paling Keren. Hahaha....
Jhoni : Terserah Mama Dech....
---> Read More . . .
Categories
Banyak Bacot
Penis
Dia Terbaring Lesu Terperangkap
Otot-Ototnya Lemah Tak Berdaya
Tak Perduli Terang Atau Gelap
Dia Tetap Menjadi Makhluk Yang Berbahaya
Bajunya Mengendur Untuk Sementara
Tubuhnya Lemas Tanpa Perintah
Tiba Saatnya Untuk Terbang Mengudara
Ketika Jiwa Asalnya Dipenuhi Gairah . . .
Kau Terus Bersembunyi Dalam Bayangan Semu
Hanya Untuk Menunggu Sebuah Giliran . .
Kapan Kau Akan Keluar Dan Membuka Topengmu . . . ?
Wahai Kau Para Pejuang Pembunuh Bayaran . . .
Otot-Ototnya Lemah Tak Berdaya
Tak Perduli Terang Atau Gelap
Dia Tetap Menjadi Makhluk Yang Berbahaya
Bajunya Mengendur Untuk Sementara
Tubuhnya Lemas Tanpa Perintah
Tiba Saatnya Untuk Terbang Mengudara
Ketika Jiwa Asalnya Dipenuhi Gairah . . .
Kau Terus Bersembunyi Dalam Bayangan Semu
Hanya Untuk Menunggu Sebuah Giliran . .
Kapan Kau Akan Keluar Dan Membuka Topengmu . . . ?
Wahai Kau Para Pejuang Pembunuh Bayaran . . .
'Penis' . . Penembak Histeris . .
---> Read More . . .
Categories
Puisi
Rokok
Asap Tebal Tebal Sekali
Bara Membara Membawa Mati
Akankah Ini Terus Terjadi
Pembantaian Paru-Paru Ini . . .
Dari Ujung Sampai Pangkal
Semuanya Tidak Berarti
Bila Pun Ada Yang Berarti
Hanya Bagi Mereka Yang Mau Mati
Akankah Ini Berakhir
Pembantaian Paru-Paru Ini . . . ?
Bila Waktu Bisa Kembali
Aku Akan Berusaha Merubah Takdir . . .
---> Read More . . .
Bara Membara Membawa Mati
Akankah Ini Terus Terjadi
Pembantaian Paru-Paru Ini . . .
Dari Ujung Sampai Pangkal
Semuanya Tidak Berarti
Bila Pun Ada Yang Berarti
Hanya Bagi Mereka Yang Mau Mati
Akankah Ini Berakhir
Pembantaian Paru-Paru Ini . . . ?
Bila Waktu Bisa Kembali
Aku Akan Berusaha Merubah Takdir . . .
Categories
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)